Kamis, 06 November 2014

Philip Kotler "Marketing"

Needs versus wants - GetWise | ASB

Philip Kotler: Marketing

KEBUTUHAN-KEINGINAN-PERMINTAAN



Saya rasa anda sering mendengar 3 kata tersebut, yaitu : Kebutuhan, Keinginan dan Permintaan. Trus apa bedanya ?. Yang pasti gini, 3 kata inilah yang menggerakan marketing, dan 3 kata inilah yang mengembangkan ilmu marketing.
Sebelumnya saya mau cerita dulu tentang pengalaman yang saya alami mengenai perkembangan hape…
nokia 3310300px-NOKIA_5510_blue_topview
Ketika saya kuliah (tahun 2001), orang yang memiliki hape sangat jarang, dan hape adalah barang mewah. Pada saat itu fitur yang terdapat pada hape adalah telpon dan SMS. Sementara itu, Kaset analog (atau pita) masih digunakan untuk mendengarkan lagu, maka masih banyak yang membawa walkman untuk mendengarkan lagu. Beberapa tahun setelah itu, muncullah seri hape yang bisa mendengarkan musik, sehingga kebiasaan membawa walkman mulai ditinggalkan. Pada saat yang sama, muncul juga seri hape yang bisa digunakan untuk memotret, sehingga mahasiswa jarang membawa tustel (kamera) untuk memotret, misalnya untuk mengabadikan kegiatan kemahasiswaan.
Perkembangan teknologi membuat kebutuhan dan keinginan konsumen berkembang, jika dulu temen-temen saya membeli hape karena ingin menelpon dan SMS, ketika kebutuhan untuk mendengarkan lagu dan memotret muncul, maka mereka juga membeli hape karena ingin mendengarkan lagu atau memotret.
Hape yang bisa mendengarkan lagu dan memotret adalah barang mahal, dan bagi sebagian mahasiswa (termasuk saya) itu adalah barang mewah yang diinginkan walau belum mampu membelinya. Namun jika uangnya cukup, maka saya akan membelinya. Dilain pihak, ada juga dosen saya atau orang lain yang saya yakin dia mampu membeli hape seri tersebut namun tidak mau membelinya, mereka nyaman menggunakan hape yang memiliki fitur telpon dan SMS.
Ok, segitulah cerita saya tentang pengalaman saya tentang perkembangan hape. Trus apa hubungannya dengan Kebutuhan, Keinginan, dan Permintaan?.
Kebutuhan adalah Tuntutan dasar manusia, artinya adalah suatu keharusan. Jika kebutuhan tidak dipenuhi, maka akan mengganggu kehidupannya. dan kebutuhan manusia terus berkembang dari waktu ke waktu. sebagai contoh kebutuhan manusia adalah : Makan, jika manusia tidak makan maka akan mati.
Keinginan adalah  Hasrat akan pemuas kebutuhan tertentu. Keinginan sangat dipengaruhi oleh faktor pribadi seperti selera, maka dari itu keinginan setiap orang berbeda-beda. Maka dari keinginan yang berbeda-beda itulah ilmu marketing berkembang, mengapa? karena produk yang diciptakan menyesuaikan dengan keinginan konsumen. Contoh : Jika makan adalah kebutuhan, maka ‘makan apa?’ adalah keinginan. Orang punya kebutuhan yang sama, yaitu makan, namun ada orang yang ingin makan nasi, bakso, mie goreng, dan sebagainya.


Permintaan adalah Keinginan yang didukung dengan daya beli. Untuk terjadi transaksi konsumen harus MAU dan MAMPU, jika keduanya tidak terpenuhi, maka transaksi tidak terjadi. Tugas marketer adalah bagaimana mempertemukan ‘MAU’ dan ‘MAMPU’ konsumen tadi dan mengkonversinya jadi TRANSAKSI.



Ada orang yang MAU (ingin beli), tapi tidak mampu membayar maka tidak terjadi transaksi, mereka hanya akan menjadi PASAR POTENSIAL yang seharusnya terus dijaga, karena jika suatu saat mereka MAMPU, maka aman beli.
Ada orang yang MAMPU BELI tapi tidak MAU BELI, maka transaksi tidak terjadi. Mereka tetap akan menjadi PASAR POTENSIAL, namun keinginan merekalah yang harus kita CREATE. Jadi mereka harus disadarkan bahwa produk yang kita tawarkan sebenarnya adalah produk yang mereka butuhkan



 

Needs wants and demands

Needs wants and demands Needs wants and demands2
Needs wants and demands are a part of basic marketing principles. Though they are 3 simple worlds, they hold a very complex meaning behind them along with a huge differentiation factor. In fact, A product can be differentiated on the basis of whether it satisfies a customers needs, wants or demands. Each of them is discussed in detail in this article
Needs -Human needs are the basic requirements and include food clothing and shelter. Without these humans cannot survive. An extended part of needs today has become education and healthcare. Generally, the products which fall under the needs category of products do not require a push. Instead the customer buys it themselves. But in todays tough and competitive world, so many brands have come up with the same offering satisfying the needs of the customer, that even the “needs category product” has to be pushed in the customers mind.
Example of needs category products / sectors – Agriculture sector, Real Estate (land always appreciates), FMCG, etc.
Wants – Wants are a step ahead of needs and are largely dependent on the needs of humans themselves. For example, you need to take a bath. But i am sure you take baths with the best soaps. Thus Wants are not mandatory part of life. You DONT need a good smelling soap. But you will definitely use it because it is your want. In the above image, the baby needs milk but it WANTS candy :)
Example of wants category products / sectors – Hospitality industry, Electronics, Consumer Durables etc, FMCG, etc.
Demands – You might want a BMW or a Mercedes for a car. You might want to go for a cruise. But can you actually buy a BMW or go on a cruise? You can provided you have the ability to buy a BMW or go on a cruise. Thus a step ahead of wants is demands. When an individual wants something which is premium, but he also has the ability to buy it, then these wants are converted to demands. The basic difference between wants and demands is desire. A customer may desire something but he may not be able to fulfill his desire.
Example of demands – Cruises, BMW’s, 5 star hotels etc.
The needs wants and demands are a very important component of marketing because they help the marketer decide the products which he needs to offer in the market. Thus the flow is like this.
Market >> Identify needs wants and demands >> Offer products to satisfy either needs wants or demands.

Related Posts:

Comments

Pertukaran dan Transaksi Dalam Pemasaran

 

Pertukaran dan Transaksi

“Orang bodoh menganggap dirinya bijak, sedangkan
oraang bijak menganggap dirinya bodoh”. (William Shakespeare).

Exchange and Transaction???

Pertukaran dan transaksi. Pertukaran hanya salah satu bagian dari cara seseorang memperoleh produk. Orang dapat memperoleh barang yang diinginkan dengan berburu, memancing atau pun memungut. Juga orang dapat bertindak pemaksaan seperti mengemis atau menerima pemberian.
Pertukaran, yang merupakan konsep inti pemasaran adalah yang memenuhi lima kondisi/syarat:
  • paling tidak, ada dua pihak yang terlibat,
  • masing-masing pihak memiliki sesuatu yang dipertukarkan/bernilai bagi pihak lain
  • masing-masing pihak mampu berkomunikasi dan bersedia “menyerahkan”,
  • masing-masing pihak bebas menerima/menolak,
  • masing-masing pihak percaya bahwa product yang dipertukarkan adalah cocok dan memang diinginkan.
Pertukaran, lebih merupakan “proses” ketimbang “event/peristiwa”. Dua pihak sepakat dalam pertukaran apabila mereka bernegosiasi_mencoba saling menyetujui untuk saling menguntungkan. Ketika agreement/persetujuan dicapai, saat itulah terjadi “transaksi”. (tansaksi ~ event/peristiwa, sedang pertukaran adalah “process”).
Transaksi adalah (peristiwa) perdagangan nilai/value antara dua atu lebih pihak. sebuah transaksi melibatkan beberapa dimensi, yakni minimal ada “dua” nilai (yang dipertukarkan), terdapat persetujuan terhadap semua persyaratan, waktu persetujuan, dan tempat persetujuan. Biasanya dilakukan secara legal formal. Tanpa kontrak hukum yang jelas, maka dapat terjadi ketidakpercayaan yang akan menimbulkan kerugian pada masing-masing pihak.
Nah, Bagaimana ? Be on your track!!!

KONSEP PEMASARAN



THE MARKETING CONCEPT

Source:  Kotler, Philip. (2000) Marketing Management. Upper Saddle River, New Jersey: Prentice Hall.



Introduction


Company Orientations to the Marketplace

What philosophy should guide a company marketing and selling efforts?  What relative weights should be given to the interests of the organization, the customers, and society?  These interest often clash, however, an organization’s marketing and selling activities should be carried out under a well-thought-out philosophy of efficiency, effectiveness, and socially responsibility.

Five orientations (philosophical concepts to the marketplace have guided and continue to guide organizational activities:

1.         The Production Concept
2.         The Product Concept
3.         The Selling Concept
4.         The Marketing Concept
5.         The Societal Marketing Concept


The Five Concepts Described

            The Production Concept. This concept is the oldest of the concepts in business.  It holds that consumers will prefer products that are widely available and inexpensive.  Managers focusing on this concept concentrate on achieving high production efficiency, low costs, and mass distribution.  They assume that consumers are primarily interested in product availability and low prices.  This orientation makes sense in developing countries, where consumers are more interested in obtaining the product than in its features.

            The Product Concept. This orientation holds that consumers will favor those products that offer the most quality, performance, or innovative features.  Managers focusing on this concept concentrate on making superior products and improving them over time. They assume that buyers admire well-made products and can appraise quality and performance.  However, these managers are sometimes caught up in a love affair with their product and do not realize what the market needs.  Management might commit the “better-mousetrap” fallacy, believing that a better mousetrap will lead people to beat a path to its door. 

            The Selling Concept. This is another common business orientation. It holds that consumers and businesses, if left alone, will ordinarily not buy enough of the selling company’s products.  The organization must, therefore, undertake an aggressive selling and promotion effort.  This concept assumes that consumers typically sho9w buyi8ng inertia or resistance and must be coaxed into buying.  It also assumes that the company has a whole battery of effective selling and promotional tools to stimulate more buying. Most firms practice the selling concept when they have overcapacity.  Their aim is to sell what they make rather than make what the market wants.

            The Marketing Concept.  This is a business philosophy that challenges the above three business orientations.  Its central tenets crystallized in the 1950s.  It holds that the key to achieving its organizational goals (goals of the selling company) consists of the company being more effective than competitors in creating, delivering, and communicating customer value to its selected target customers. The marketing concept rests on four pillars:  target market, customer needs, integrated marketing and profitability.

            Distinctions between the Sales Concept and the Marketing Concept:
           
1.         The Sales Concept focuses on the needs of the seller.  The Marketing Concept focuses on the needs of the buyer. 

2.         The Sales Concept is preoccupied with the seller’s need to convert his/her product into cash.  The Marketing Concept is preoccupied with the idea of satisfying the needs of the customer by means of the product as a solution to the customer’s problem (needs).

            The Marketing Concept represents the major change in today’s company orientation that provides the foundation to achieve competitive advantage.  This philosophy is the foundation of consultative selling. 

            The Marketing Concept has evolved into a fifth and more refined company orientation:  The Societal Marketing Concept. This concept is more theoretical and will undoubtedly influence future forms of marketing and selling approaches.

            The Societal Marketing Concept. This concept holds that the organization’s task is to determine the needs, wants, and interests of target markets and to deliver the desired satisfactions more effectively and efficiently than competitors (this is the original Marketing Concept).  Additionally, it holds that this all must be done in a way that preserves or enhances the consumer’s and the society’s well-being.

            This orientation arose as some questioned whether the Marketing Concept is an appropriate philosophy in an age of environmental deterioration, resource shortages, explosive population growth, world hunger and poverty, and neglected social services. 
Are companies that do an excellent job of satisfying consumer wants necessarily acting in the best long-run interests of consumers and society?   

            The marketing concept possibily sidesteps the potential conflicts among consumer wants, consumer interests, and long-run societal welfare. Just consider:
The fast-food hamburger industry offers tasty buty unhealthy food. The hamburgers have a high fat content, and the restaurants promote fries and pies, two products high in starch and fat.  The products are wrapped in convenient packaging, which leads to much waste.  In satisfying consumer wants, these restaurants may be hurting consumer health and causing environmental problems.
           

What do you think?



 

KEPUASAN PELANGGAN

 

Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction)

  
 Pengertian Kepuasan Konsumen
Pengertian secara umum mengenai kepuasan atau ketidakpuasan konsumen merupakan hasil dari adanya perbedaan –perbedaan antara harapan konsumen dengan kinerja yang dirasakan oleh konsumen tersebut.Dari beragam definisi kepuasan konsumen yang telah diteliti dan didefinisikan oleh para ahli pemasaran, dapat disimpulkan bahwa kepuasan konsumen merupakan suatu tanggapan perilaku konsumen berupa evaluasi purna beli terhadap suatu barang atau jasa yang dirasakannya (kinerja produk) dibandingkan dengan harapan konsumen.
Kepuasan konsumen ini sangat tergantung pada persepsi dan harapan konsumen itu sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dan harapan konsumen ketika melakukan pembelian suatu barang atau jasa adalah kebutuhan dan keinginan yang dirasakan oleh konsumen tersebut pada saat melakukan pembelian suatu barang atau jasa, pengalaman masa lalu ketika mengkonsumsi barang atau jasa tersebut serta pengalaman teman-teman yang telah mengkonsumsi barang atau jasa tersebut dan periklanan.
Didalam lingkungan yang kompetitif, indikator yang dapat menunjukkan kepuasan konsumen adalah apakah konsumen tersebut akan membeli kembali dan menggunakan produk tersebut diwaktu yang akan datang. Adapun beberapa pengertian kepuasan konsumen menurut para peneliti adalah sebagai berikut :
Menurut kotler[1], Kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi atau kesan terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan harapan-harapannya.  Jadi, kepuasan merupakan fungsi dari persepsi atau kesan atas kinerja dan harapan. Jika kinerja berada dibawah harapan maka pelanggan tidak puas. Jika kinerja memenuhi harapan maka pelanggan akan puas. Jika kinerja melebihi harapan maka pelanggan akan amat puas atau senang.Kunci untuk menghasikan kesetian pelanggan adalah memberikan nilai pelanggan yang tinggi.
Hubungan antara kepuasan pelanggan dan pelanggan yang loyal adalah tidak proporsional[2], contohnya adalah kepuasan pelanggan yang diranking dengan skala 1-5, yaitu :
1.   Kepuasan pelanggan pada tingkat sangat rendah (tingkat 1), kemungkinan besar pelanggan akan berpindah meninggalkan perusahaan dan menjelek-jelekkannya.
2.     Kepuasan pelanggan pada tingkat 2 sampai dengan tingkat 4, pelanggan merasa agak puas,tetapi masih mungkin untuk berpindah ketika suatu penawaran lebih baik muncul.
3.  Kepuasan pelanggan pada tingkat 5, pelanggan sangat mungkin membeli kembali dan bahkan menyebarluaskan kabar baik tentang perusahaan.Kesenangan atau kepuasan yang tinggi menciptakan suatu ikatan emosional dengan merek atau perusahaan tersebut dan tidak hanya terpaku pada pilihan yang masuk akal saja.
Sedangkan kepuasan menurut Kotler dan Armstrong (2001:9) : Kepuasan konsumen adalah sejauh mana anggapan kinerja produk memenuhi harapan pembeli. Bila kinerja produk lebih rendah ketimbang harapan pelanggan, maka pembelinya merasa puas atau amat gembira.
Menurut Zeithaml dan Bitner (2000:75) definisi kepuasan adalah : Respon atau tanggapan konsumen mengenai pemenuhan kebutuhan. Kepuasan merupakan penilaian mengenai ciri atau keistimewaan produk atau jasa, atau produk itu sendiri, yang menyediakan tingkat kesenangan konsumen berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan konsumsi konsumen.
Kepuasan konsumen dapat diciptakan melalui kualitas,pelayanan dan nilai.
  1. KualitasKualitas mempunyai hubungan yang erat dengan kepuasan konsumen. Kualitas akan mendorong konsumen untuk menjalin hubungan yang erat dengan perusahaan. Dalam jangka panjang, ikatan ini memungkinkan perusahaan untuk memahami harapan dan kebutuhan konsumen. Kepuasan konsumen pada akhirnya akan menciptakan loyalitas konsumen kepada perusahaan yang memberikan kualitas yang memuaskan mereka.
  1. Pelayanan konsumenPelayanan konsumen tidak hanya sekedar menjawab pertanyaan dan keluhan konsumen mengenai suatu produk atau jasa yang tidak memuaskan mereka, namun lebih dari pemecahan yang timbul setelah pembelian.
  1. Menurut Kotler (2000:34) definisi nilai pelanggan adalah :Nilai yang dirasakan pelanggan adalah selisih antara jumlah nilai pelanggan dengan jumlah biaya pelanggan.Jumlah nilai pelanggan adalah sekelompok manfaat yang diharapkan dari produk dan jasa. Jumlah biaya pelanggan adalah sekelompok biaya yang digunakan dalam menilai, mendapatkan, menggunakan dan membuang produk atau jasa.
Karena kepuasan pelanggan sangat tergantung pada persepsi dan ekspektasi pelanggan, maka sebagai pemasok produk perlu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya. Menurut Zeithaml et.all[3] terdapat empat faktor yang mempengaruhi persepsi dan ekspektasi pelanggan,yaitu sebagai berikut :
1.     Apa yang didengar pelanggan dari pelanggan lainnya (word of mounth communication).Dimana hal ini merupakan faktor potensial yang menentukan ekspektasi pelanggan.Sebagai contoh, seorang pelanggan memiliki perusahaan yang di harapkan dapat memberikan pelayanan dengan kualitas tinggi berdasarkan rekomendasi teman-teman atau tetangganya.
2. Ekspektasi pelanggan sangat bergantung dari karakteristik individu dimana kebutuhan pribadi (personnel needs).
3.  Pengalaman masa lalu (past experience) dalam menggunakan pelayanan dapat juga mempengaruhi tingkat ekspetasi pelanggan.
4. Komunikasi dengan pihak eksternal (external communication) dari pemberi layanan memainkan peranan kunci dalam membentuk ekspektasi pelanggan.Berdasarkan External communication,perusahan pemberi layanan dapat memberikan pesan-pesan secara langsung maupun tidak langsung kepada pelanggannya.Sebagai contoh dari pengaruh adanya external communication  adalah harga di mana biaya pelayanan sangat berperan penting dalam membentuk ekspektasi pelanggan.
Dengan demikian, kemungkinan antara ekspektasi pelanggan dan kualitas pelayanan (jasa) yang di terimanya, adalah seperti gambar 1 :
1.       Pelanggan menjadi senang jika kualitas pelayanan yang diterima lebih baik dari perkiraannya.
2.       Pelanggan menjadi biasa saja jika kualitas pelayanan yang terima sama dengan perkiraannya.
3.       Pelanggan menjadi kecewa jika kualitas pelayanan yang diterima lebih jelek dari perkiraannya.
      Kepuasan pelanggan menurut Guiltinan[4] yaitu ” A buyer’s degree of satisfaction with product is the consequence of the comparison a buyer makes between the level of the benefits perceived to have been received after consuming or using a product and the level of the benefits expected prior purchase “ . Artinya bahwa kepuasan pelanggan merupakan konsekuensi dari perbandingan yang dilakukan oleh pelanggan yang membandingkan antara tingkatan dari manfaat yang dirasakan terhadap manfaat yang diharapkan oleh pelanggan. Dalam rangka menciptakan kepuasan pelanggan menurut Guiltanan[5] perusahaan harus mampu menawarkan kualitas dari suatu produk dan juga pelayanannya.
      Sedangkan menurut Pasuraman, Zeithaml, dan Berry[6] , mengemukakan bahwa kepuasan pelanggan adalah perasaan pelanggan terhadap satu jenis pelayanan yang didapatkannya . Lovelock[7] menjelaskan bahwa kepuasan adalah keadaan emosional, reaksi pasca pembelian mereka dapat berupa kemarahan, ketidakpuasan, kejengkelan, kegembiraan atau kesenangan. Tidak mengherankan bahwa perusahaan telah menjadi terobsesi dengan kepuasan pelanggan, mengingat hubungannya yang langsung dengan kesetiaan pelanggan, pangsa pasar dan keuntungan. Schiffman dan Kanuk[8] menandaskan bahwa kepuasan pelanggan merupakan perasaan seseorang terhadap kinerja dari suatu produk atau jasa yang dibandingkan dengan harapannya.
      Kotler seperti yang dikutip Rangkuti[9], menjelaskan bahwa kepuasan pelanggan merupakan perasaan senang atau kecewa seseorang sebagai hasil dari perbandingan antara prestasi atau produk yang dirasakan dan diharapkannya. Jadi dari definisi-definisi diatas artinya adalah jika perasaan seseorang tersebut memenuhi atau bahkan melebihi harapannya maka seseorang tersebut dapat dikatakan puas.
     Zeithaml dan Bitner[10] mengemukakan bahwa kepuasan adalah konsep yang jauh lebih luas dari hanya sekedar penilaian kualitas pelayanan, tetapi juga di pengaruhi oleh faktor-faktor lain. Sebagaimana terlihat pada gambar 2 kepuasan pelanggan di pengaruhi oleh persepsi pelanggan terhadap kualitas pelayanan  (jasa) , kualitas produk, harga dan oleh faktor situasi dan faktor pribadi dari pelanggan. Kualitas pelayanan (jasa) merupakan fokus penilaian yang merefleksikan persepsi pelanggan terhadap lima dimensi spesifik dari pelayanan(jasa). Kepuasan lebih inklusif , yaitu kepuasan di tentukan oleh persepsi terhadap kualitas pelayanan (jasa) , kualitas produk ,harga, faktor situasi dan faktor pribadi.
Customer Satisfaction Model
     Konsep kepuasan pelanggan dari zeithaml dan Bitner ini di gunakan dalam penelitian karena dimensi-dimensi yang mempengaruhi kepuasan pelanggan mewakili objek penelitian.  Lovelock[11], menjelaskan bahwa kepuasan adalah keadaan emosional, reaksi pasca pembelian mereka dapat berupa kemarahan, ketidakpuasan,kejengkelan, netralitas, kegembiraan atau kesenangan.Tidak mengherankan bahwa perusahaan telah menjadi terosebsi dengan kepuasan pelanggan, mengingat hubungannya yang langsung dengan kesetiaan pelanggan, pangsa pasar dan keuntungan. Schisffman dan Kanuk[12] menandaskan bahwa kepuasan pelanggan merupakan perasaan seseorang terhadap kinerja dari suatu produk yang dirasakan dan diharapkannya. Jadi dari definisi – definisi diatas artinya adalah jika perasaan seseorang tersebut memenuhi atau bahkan melebihi harapannya maka seseorang tersebut dapat dikatakan puas.
Aspek-aspek yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan secara efektif[13],yaitu :
1.  Warranty costs. Beberapa perusahaan dalam menangani warranty costs produk/jasa mereka dilakukan melalui persentase penjualan. Kegagalan perusahaan dalam memberi kepuasan kepada pelanggan biasanya karena perusahaan tidak memberi jaminan terhadap produk yang mereka jual kepada pelanggan.
2.    Penanganan terhadap komplain dari pelanggan. Secara statistic hal ini penting untuk diperhatikan, namun seringkali terlambat bagi perusahaan untuk menyadarinya. Bila komplain/klaim dari pelanggan tidak secepatnya diatasi, maka customer defections tidak dapat dicegah.
3.    Market Share. Merupakan hal yang harus diukur dan berkaitan dengan kinerja perusahaan. Jika market share diukur, maka yang diukur adalah kuantitas, bukan kualitas dari pelayanan perusahaan.
4.     Costs of poor quality. Hal  ini dapat bernilai memuaskan bila biaya untuk defecting customer dapat diperkirakan.
5.       Industry reports. Terdapat banyak jenis dan industry reports ini, seperti yang disampaikan oleh J.D Power dalam Bhote, yakni report yang fairest, most accurate, dan most eagerly yang dibuat oleh perusahaan.
Guiltinan[14] mengemukakan bahwa salah satu manfaat dari kepuasan pelanggan ini adalah dapat meningkatkan loyalitas pelanggan, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini.

Bagan Konsekuensi Kepuasan Pelanggan
Sedangkan Lovelock[15] mengemukakan bahwa kepuasan pelanggan memberikan banyak manfaat bagi perusahaan, dan tingkat kepuasan pelanggan yang lebih besar. Dalam jangka panjang, akan lebih menguntungkan mempertahankan pelanggan yang baik daripada terus menerus menarik dan membina pelanggan baru untuk menggantikan pelanggan yang pergi. Pelanggan yang sangat puas akan menyebarkan cerita positif dari mulut ke mulut dan malah akan menjadi iklan berjalan dan berbicara bagi suatu perusahaan, yang akan menurunkan biaya untuk menarik pelanggan baru seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini mengenai manfaat dari kepuasan pelanggan.
Manfaat Kepuasan Pelanggan
       
 Jadi dari beberapa teori diatas dapat disimpulkan salah satu manfaat dari kepuasan pelanggan yaitu dapat meningkatkan loyalitas pelanggan sehingga dapat disimpulkan pula bahwa kepuasan pelanggan itu sendiri dapat mempengaruhi loyalitas pelanggan.
Manfaat Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Ukuran kepuasan pelanggan dapat dikategorikan sebagai kurang puas,puas dan sangat puas.Pengukuran mutu pelayanan dan kepuasan pelanggan dapat digunakan untuk beberapa tujuan[16] , yaitu :
1.    Mempelajari persepsi masing-masing pelanggan terhadap mutu pelayanan yang dicari,diminati dan diterima atau tidak di terima pelanggan,yang akhirnya pelanggan merasa puas dan terus melakukan kerja sama.
2.       Mengetahui kebutuhan,keinginan, persyaratan, dan harapan pelanggan pada saat sekarang dan masa yang akan datang yang disediakan perusahaan yang sesungguhnya dengan harapan pelanggan atas pelayanan yang diterima.
3.       Meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan harapan-harapan pelanggan.
4.       Menyusun rencana kerja dan menyempurnakan kualitas pelayanan dimasa akan datang.
Mengukur Kepuasan Pelanggan
      Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan setiap perusahaan untuk mengukur dan memantau kepuasan pelanggannya dan pelanggan perusahaan pesaing.Kotler[17], mengemukakan 4 metode untuk mengukur kepuasan pelanggan, yaitu:
1.       Sistem keluhan dan saran
Sebuah perusahaan yang berfokus pada pelanggan mempermudah pelanggannya untuk memberikan saran, pendapat dan keluhan mereka.Media yang di gunakan meliputi kotak saran yang di letakkan di tempat-tempat strategis,menyediakan kartu komentar,saluran telepon khusus dan sebagainya.Tetapi karena metode ini cenderung pasif,maka sulit mendapatkan gambaran lengkap mengenai kepuasan dan tidak kepuasan pelanggan.Tidak semua pelanggan yang tidak puas lantas akan menyampaikan keluhannya.Bisa saja mereka langsung beralih ke perusahaan lain dan tidak akan menjadi pelanggan perusahaan tersebut lagi.
2.    Survei kepuasan pelanggan
Umumnya banyak penelitian mengenai kepuasan pelanggan di lakukan dengan menggunakan metode survei baik melalui pos,telepon maupun wawancara pribadi.
Pengukuran kepuasan pelanggan melalui metode ini dapat di lakukan dengan berbagai cara[18], diantaranya :
a     Directly Reported Satisfaction
                Pengukuran dilakukan secara langsung melalui pertanyaan.
b   Derived Dissatisfaction
Pertanyaan yang di ajukan menyangkut 2 hal utama, yaitu besarnya harapan pelanggan terhadap atribut tertentu dan besarnya kinerja yang telah mereka rasakan atau terima.
      c   Problem Analysis
Pelanggan yang dijadikan responden diminta untuk mengungkapkan 2 hal pokok,yaitu : masalah-masalah yang mereka hadapi berkaitan dengan penawaran dari menajemen perusahaan dan saran-saran untuk melakukan perbaikan.
     d   Importance-Performance Analysis
Dalam tehnik ini responden diminta meranking berbagai elemen dari penawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap elemen tersebut. Selain itu juga, responden diminta merangking seberapa baik kinerja perusahaan dalam masing-masing elemen tersebut.
3.    Belanja siluman(Ghost shopping).
Metode ini dilaksanakan dengan cara memperkerjakan beberapa orang(ghost shopper)untuk berperan atau bersikap sebagai pelanggan potensial produk perusahaan dan pesaing.Lalu ghost shopper tersebut menyampaikan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan produk perusahaan pesaing berdasarkan pengalaman mereka dalam pembelian produk-produk tersebut. Selain itu para ghost shopper juga datang melihat langsung bagaimana karyawan berinteraksi dan memperlakukan para pelanggannya.Tentunya karyawan tidak boleh tahu kalau atasannya baru melakukan penilaian akan menjadi bias. 

4.   Analisis pelanggan yang hilang (lost customer analysis)
Pihak perusahaan berusaha menghubungi para pelanggannya yang sudah berhenti menjadi pelanggan atau beralih ke perusahaan lain. Yang di harapkan adalah memperoleh informasi bagi perusahaan untuk mengambil kebijakan selanjutnya dalam rangka meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan.
BUKA LINK LINK BERIKUT INI
 
 
 
 
 
 
 
 




[1] Kotler, Philip. Marketing Management, 11th Edition. Prentice Hall Int’l, New Jersey, 2003, p.138
[2] Ibid, p.205
[3] Zeithaml, Valarie A. and Bitner, Mary Jo. Service Marketing. McGraw Hill Inc, Int’l Edition, New York, 2003, p.162
[4] Guilitnan,Joseph,P,Paul,Gordon W and Madden,Thomas J.1997.Marketing Management.6th edition.McGraw-Hill Companies.Hal 6
[6] Parasuraman.Valarie.A.Z and Berry.1990.Delivering Quality.Service McMilan.Hal 15
[7] Lovelock,Christopher.H dan Wright,Lauren.K.2005.Manajemen Pemasaran Jasa.Indeks.Hal 102
[8] Schiffman, Leon. G and Kanuk, Leslie Lazar.2004.Consumer Behavior 8th edition. Pearson Prentice Hall.Hal 14
[9] Rangkuti,Freddy.2002.Measuring Customer Satisfaction.Gramedia Pustaka Utama.Hal 23
[10] Zeithaml, Valarie A. and Bitner, Mary Jo. Service Marketing. McGraw Hill Inc, Int’l Edition, New York, 2003, p.85
[11] Lovelock,Christopher.H dan Wright,Lauren.K.2005.Manajemen Pemasaran Jasa.Indeks.Hal 102
[12] Schiffman, Leon. G and Kanuk, Leslie Lazar.2004.Consumer Behavior 8th edition. Pearson Prentice Hall.Hal 14
[13] Bhote, Keki R.1996.Beyond Customer Satisfaction to Customer Loyalty.American Management Association.Hal 56
[14] Guilitnan,Joseph,P,Paul,Gordon W and Madden,Thomas J.1997.Marketing Management.6th edition.McGraw-Hill Companies.Hal 7
[15] Lovelock,Christopher.H dan Wright,Lauren.K.2005.Manajemen Pemasaran Jasa.Indeks.Hal 104
[16] Kotler, Philip. Manajemen Pemasaran : Analisis Perencanaan, Implementasi dan Kontrol, Edisi Milenium. PT. Prenhalindo, Yakarta, 2002, hal.38
[17] Op.cit, hal.42